Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan

Siapa Yang Dapat Saya Percaya?


Saya pernah katakan di tulisan saya sebelumnya dimana tertulis "Saya yang memilih masukan siapa yang saya dengar." Kebanyakan orang mungkin membacanya dan memberikan tanggapan yang sinis. Saya juga pernah menerima protes dari beberapa orang. Ini pemikiran saya ...

Suatu ketika ada seorang pemimpin yang memimpin sebuah organisasi, beliau dapat dikatakan cukup sukses. Ketika bertemu, pemimpin tersebut dalam pernyataanya meminta saya untuk mempercayai dia untuk mengambil pilihan yang sudah ia pilihkan bagi kami. Logika saya cukup lantang sehingga suara hati saya berteriak "Baru juga kenal and suruh saya percaya?"

Keperdulian seringkali hadir dalam bentuk yang tidak diinginkan.

U know, Anda tidak dapat memberikan kepercayaan Anda kepada sembarangan orang. Kita mempercayai seseorang dan dapat mendengarkan dia karena dedikasinya terhadap kehidupan kita. Saya sempat share juga di artikel sebelumnya kalau mreka yang memiliki faith and trust terhadap diri saya yang dapat saya berikan trust untuk memberikan advice bagi hidup saya. Cos u know, banyak banget yang akan criticise diri kita tanpa mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Mereka hanya suka mengkritik karena mencoba fixing hidup orang lain dengan kehidupan mereka sehingga kita bisa kehilangan our uniqueness jika kita mendengar suara-suara negatif tersebut terlalu banyak. Anda dapat melihat siapa yang benar-benar memiliki hati yang perduli.

Anda tidak dapat memberikan kepercayaan Anda kepada sembarangan orang.

Keperdulian bukan hadir dalam bentuk yang diinginkan. Keperdulian seringkali hadir dalam bentuk yang tidak diinginkan. Ketika Anda mendengar apa yang tidak ingin Anda dengar. Ketika Anda menerima sebuah teguran sekaligus tepukan di pundak yang mengatakan "Saya percaya kamu bisa." dan bukannya "Kok gitu aja ngak bisa-bisa." Seseorang yang tidak meninggalkan Anda hanya karena Anda sudah terlalu putus asa dengan kehidupan Anda sendiri. Seseorang yang mempercayai yang terbaik dari diri Anda dan see things that can't be seen by eyes. Seseorang yang terlalu perduli sehingga tidak tega membiarkan Anda kembali kepada kehidupan yang biasa. Seseorang yang mempercayai yang terbaik masih ada di dalam diri Anda.

A Very Few Great Friends


Beberapa hari lalu meditate on audio sermon by Ps.Jeffrey Rachmat yang judulnya Time & Relationship. Beliau bagiin beberapa stage relationship di dalam sermon nya. Yang saya mau bagiin adalah apa yang saya dapatkan dari perenungan saya.

Untuk orang yang suka sama hal-hal yang berhubungan dengan people, ngak sulit untuk saya memiliki banyak teman. Saya juga ngak pilih-pilih. Di satu sisi saya orang yang terbuka yang ngak sungkan membagikan apa yang saya alami di dalam kehidupan, that's why blog ini ada :) Tapi di sisi lain saya benar-benar menjaga diri untuk setiap masukan yang saya dengar. Saya yang memilih masukan siapa yang saya dengar.

Banyak tipe-tipe teman. Ada yang hanya sebatas kenal tapi saya juga ngak ingin kenal mereka lebih jauh. Ada yang jadi temen tapi ya temen biasa aja. Ada juga temen tapi ya kok rasanya ngak begitu banyak manfaat yang saya dapatkan dari mereka, temen-temen yang buat ngumpul doank gitu. Ada lagi temen yang nyari kalo lagi susah aja. Hehehe. Kalo yang ini banyak and saya ngak protes, kehormatan kalo mereka bisa nyaman untuk share dan saya yang people person tentu menyambut dengan senang hati. Tapi kalo diingat-ingat apa kamu punya temen yang kamu bisa andalkan dan bisa kamu dengar?

Kualitas kehidupan kita ditentukan dari pergaulan kita. Itu bener banget. Tanpa disadari kehidupan berpikir kita dikendalikan oleh lingkungan yang membentuk kebiasaan kita. Kalo kita bertemen sama orang yang hidupnya fun aja, hidup kita akan muter-muter seputar mencari kesenangan hidup aja. Happy Happy. Tapi, apakah kehidupan demikian adalah kehidupan yang bermakna?

Kualitas kehidupan kita ditentukan dari pergaulan kita.

Kita diciptakan dengan potensi atau talenta yang dapat kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain sehingga kehidupan kita dapat menjadi blessing buat orang lain. Seringkali kita ngak lihat potensi tersebut, tapi make sure kita dikelilingi oleh great people sehingga lewat mereka, kita bisa melihat greatness yang juga ada di dalam diri kita.

Kita diciptakan dengan potensi atau talenta yang dapat kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain sehingga kehidupan kita dapat menjadi blessing buat orang lain.

Saya menghitung hanya ada sangat sedikit teman di dalam kehidupan saya yang mampu menginspirasi saya dan terutama yang mendorong saya menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika saya renungkan sepanjang tahun ini, wajah-wajah mereka terpampang jelas di benak saya. Mereka yang udah invest di dalam diri saya. Mereka yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka yang memiliki faith pada diri saya, memberikan saya trust untuk menjadi bagian kehidupan mereka dan yang terlebih dahulu melihat potensi yang ada di dalam diri saya jauh sebelum saya memiliki kemampuan untuk melihatnya.

Merekalah orang-orang yang menginspirasi saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Merekalah tempat saya dapat memberikan trust saya karena mereka terlebih dahulu memiliki faith terhadap diri saya. Saya dapat melihat ketulusan mereka dan desire mereka untuk melihat saya menjadi seseorang yang lebih besar. Sehingga saya dapat menutup tahun ini dengan mensyukuri orang-orang yang sangat sedikit tersebut di dalam hidup saya.

Nama yang saya ngak bisa sebutkan disini satu per satu but i really thank you guys :)

Siapkah Anda Memulai Terlebih Dahulu?

Di dalam kehidupan, kita akan menjumpai seringkali orang lain memperlakukan kita dengan cara yang kurang hormat. Secara umum, kita akan memperlakukan orang lain minimal sama dengan cara orang tersebut memperlakukan kita atau bahkan lebih buruk lagi.

Beberapa waktu yang lalu saya diperhadapkan dengan situasi di atas. Mungkin sebenarnya bukan maksud orang-orang yang saya temui untuk bersikap demikian, namun itulah yang saya rasakan. Saya sampai pada kesimpulan yang menjadi bahan tulisan saya hari ini. Memang wajar jika sayapun memperlakukan mereka sama seperti cara mereka memperlakukan saya. Jika orang tersebut tidak ramah, saya tidak perlu mencoba untuk bersikap ramah. Jika orang tersebut tidak bersahabat, saya tidak perlu mencoba untuk bersikap bersahabat. Itu benar jika saya ingin menjadi sama dengan mayoritas. Masalahnya, saya ingin menjadi seseorang yang berbeda. Saya perlu merubah sudut pandang saya.

Saya harus menyadari bahwa setiap orang memiliki area pergumulannya masing-masing dan hal tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan saya. Kadangkala kita mengalami hari yang begitu buruk sehingga sikap kita menjadi begitu buruk, padahal bukan maksud kita untuk bersikap seperti itu. Setiap kita bisa saja kehilangan kontrol.

Saya menarik kesimpulan demikian sehingga saya mengambil keputusan bahwa saya tidak ingin menjadi seseorang yang meresponi hal yang buruk dengan sikap yang salah. Ketika saya melihat wajah satpam penjaga yang musam, saya menyapanya dengan ramah disertai senyuman yang tulus. Hal ini tidak dapat saya lakukan pertama kali ketika mendapatkan perlakuan seperti itu, butuh waktu bagi saya untuk menentukan sikap saya sebelum akhirnya menjadi sebuah kebiasaan karena saya terlebih dahulu merubah sudut pandang saya.

Lewat kejadian yang saya alami, saya belajar untuk menjadi seorang agen perubahan dimana saya ingin melihat perubahan. Saya juga belajar bahwa saya tidak memiliki kendali atas sikap dan tindakan orang lain, namun saya memiliki kendali atas sikap saya sendiri. Ketika saya belajar mengubah sudut pandang dan tindakan saya, sikap satpam yang saya ceritakan menjadi berubah. Kami menjadi saling menyapa dengan ramah dan senyuman yang tulus.

Saya selalu percaya bahwa satu keputusan sederhana kita dapat mengubahkan kehidupan orang lain ke arah yang lebih baik. Permasalahnnya, siapkah anda untuk memulai terlebih dahulu?

2 Penghalang Besar Untuk Berada di Posisi Terhormat

Sudah menjadi hal yang umum jika biasanya kita akan memperlakukan orang lain sama seperti cara orang tersebut memperlakukan kita. Seringkali kita enggan atau gengsi untuk menghormati terlebih dahulu. Padahal sebenarnya, hal tersebut menunjukkan karakter kita yang sesungguhnya. Kenapa terlalu pusing dengan reaksi orang lain? Gengsi, iya apa iya?

Cara kita memandang diri kita sendiri memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan kita. Dalam hal ini, cara kita memandang diri kita sendiri apakah terlalu rendah atau terlalu tinggi; keduanya menghalangi kita untuk terlebih dahulu memberikan hormat. Apa sih bahaya dari keduanya?

1. Memandang rendah diri sendiri
Memandang rendah diri sendiri dapat membuat orang tersebut mendefinisikan perilaku orang lain sebagai tindakan merendahkan atau penindasan, padahal mungkin hanya perasaannya saja yang timbul akibat pola pikirnya terhadap dirinya sendiri. Hal ini memicu sikap yang buruk kepada setiap orang yang ditemuinya karna orang ini cenderung bersikap defensif untuk melindungi dirinya sendiri.

Orang yang memandang rendah dirinya sendiri juga cenderung menghormati orang lain karena dia harus. Dia bersikap seakan-akan menghormati, tapi sesungguhnya dia menghormati karena dia merasa posisi, status, jataban dari orang yang dia hormati lebih tinggi dari nya. Bahasa gaulnya, terpaksa.


2. Memandang tinggi diri sendiri
Orang tipe kedua ini cenderung memandang tinggi dirinya sendiri. Bisa jadi memang kualitas dirinya baik, ya katakanlah karna posisi atau jabatan; dia layak dihormati atau dia memang memiliki kualitas yang layak untuk dihormati. Namun hal tersebut membuat dia terus menerus mengevaluasi apakah setiap orang yang dia temui sudah memperlakukan dia dengan pantas. Bayangkan, jika fokus utama kita hanya mengevaluasi orang lain. Sama sekali bertolak belakang dengan ssalah satu definisi menghormati menurut kamus besar bahasa indonesa yaitu mengakui. Bagaimana kita bisa menghormati dengan tulus jika kita seperti mesin scanning yang berusaha melakukan scanning pada setiap orang yang kita jumpai?

Jika dari kedua tipe orang di atas anda ter-identifikasi sebagai salah satu diantaranya, tidak perlu berkecil hati. Yang perlu anda lakukan hanyalah membangun sebuah cara pandang yang benar mengenai diri sendiri.

Bagaimana Berhubungan Dengan Orang Yang Berbeda?

Setiap orang diciptakan secara berbeda, kita sudah sering dengar. Bisa jadi, hal ini yang membuat kita jatuh cinta dengan si dia ;) Berhubungan dengan orang yang berbeda memang dapat melukiskan suatu warna tersendiri dalam kehidupan kita. Awalnya, dapat mencerahkan namun lambat laun ketika hubungan tersebut sudah memasuki usia yang bukan terbilang baru lagi; bisa jadi kita dibuat enggan olehnya.

Tentukanlah Tujuan Akhir Dari Sebuah Kebersamaan
Saya selalu percaya bahwa kita diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. Sayangnya, kitalah manusia dengan seporsi ego yang membuat kita cenderung memposisikan diri lebih benar daripada orang lain. Untuk itu, kita perlu menentukan tujuan akhir dari kebersamaan yang kita jalin baik dengan sekelompok orang maupun dengan seorang pribadi.

Menentukan tujuan bukan berarti memiliki motif terselubung. Menentukan tujuan akhir merupakan suatu langkah awal untuk membentuk sinergi diantara lebih dari satu orang. Hal ini dapat membuat kita melihat perbedaan lebih kepada sebagai sarana untuk mencapai tujuan bersama, bukan untuk memecah belah.


Terimalah Perbedaan
Sistem dan pendekatan yang diadopsi oleh setiap orang berbeda-beda, tergantung dari kepribadan yang dimiliki masing-masing orang. Sadar atau tidak, kita seringkali bersikap manipulatif agar penyesuaian datang dari sisi seberang. Kita selalu menginginkan orang lain yang menyesuaikan diri dengan kita.

Setiap orang memiliki tahap pembelajarannya masing-masing. Dengan bersikap seperti di atas, sesungguhnya kita sedang berusaha untuk mengambil jalan pintas dengan memotong proses yang sedang terjadi dalam interaksi antar manusia.

Dengan menerima perbedaan, kita mempercayai orang lain untuk melakukan bagiannya. Ketika kita mulai belajar mempercayai maka keselarasan dan harmoni dapat tercipta. Bukankah kehidupan yang demikian yang kita damba? Lantas, kenapa kita hidup berlawanan dengannya?

Saya memiliki kehidupan yang mendorong saya masuk ke dalam proses interaksi antar manusia. Saya punya keluarga besar, pasangan, teman-teman yang memiliki kepribadian berbeda dengan saya. Bukan hanya berbeda, kata bertolak belakang mungkin lebih tepat untuk menggambarkannya. Saya pernah dan sering berada pada posisi dimana saya dibuat menggila karnanya. Sayapun sering tergoda ingin menyerah saja dalam proses nya. Sampai pada hari ini, tulisan ini dapat tercipta karna saya menolak untuk quit from the game.

I love people ;) dan saya sangat percaya akan dampak dari sebuah keputusan kecil untuk belajar melayani orang lain. Saya percaya kuasa dari kesatuan. Mungkinkah dua hal di atas sebenarnya merupakan kunci dari kemerdekaan yang kedua bagi bangsa kita?

Love,
Me

Love is Holding Back Your Words

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri woman conference dengan tema Love Never Fails. Pembicara yang diundang sangat menginspirasi saya. Sampai-sampai, begitu banyak pengalaman yang tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Too shock to see how God works beautifully.

Di hari pertama, saya datang dengan sebuah kerinduan untuk diubahkan, bukan hanya untuk mengumpulkan pengetahuan karna tahu banyak tidak akan mengubahkan kehidupan. Terus terang, dengan rutinitas dan kesibukan yang begitu padat, kita semua perlu waktu dimana kita dapat diisi kembali dengan hal-hal yang baru dan baik.

Hanya dengan cara kita membuka hati dan pikiran untuk belajar, kita akan diberikan hikmat yang datang bersamaan dengan pengetahuan.


Love is holding back your words.

Sebaris kalimat tersebut saya baca ketika saya sedang berada di dalam toilet. Quote ini tertulis di selembar kertas kita-kita ukuran A4 yang ditempel di balik pintu toilet. Menarik perhatian bukan karna kata-kata nya yang dituliskan dengan begitu indah. Saya punya cerita di balik kesan mendalam tentang sebaris kalimat tersebut. Inilah kisah saya.

Saya pemilik personality Dominan Intim yang memiliki maksud baik dengan cara penyampaian yang spontan dan apa adanya. Sejak dulu saya sudah mendengar pepatah kalo maksud baik dengan peyampaian tidak tepat akan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat bagi orang lain. Hal ini menjadi pepatah yang saya abaikan karna fokus saya adalah maksud baik saya yang saya pikir dapat dilihat oleh orang yang berhadapan dengan saya.

Beberapa kali ketika saya tidak setuju dengan pasangan, saya akan menyampaikan ketidaksetujuan saya dengan cara yang extreme. Deretan kalimat dan intonasi yang bersemangat (baca : berlebihan) membuat dia merasa terintimidasi. Hal ini membuat saya merasa kalau saya memiliki komunikasi yang sangat buruk dengan pasangan saya. Celakanya, dalam rentang waktu yang cukup lama, saya juga tidak menyadari bahwa ternyata cara penyampaian sayalah letak permasalahan yang sebenarnya. Saya berpikir bahwa komunikasi adalah mengutarakan dengan terus terang dan jelas apa yang sedang saya rasakan dan pikirkan. Sang pacar pernah berulang kali menjelaskan kalau dia bukan tipe orang yang bisa dibombardir dengan sederet kalimat tanpa sususan dan cara penyampaian yang baik tapi saya selalu berkomunikasi dengan cara yang sama sehingga saya selalu merasa stress karena perasaan bahwa kami tidak memiliki komunikasi yang baik. Tentu saja, saya pikir dia yang tidak mau mendengar dan berusaha mengerti saya.

Jika saya ingat-ingat lagi, saya jadi sedih sendiri. Tidak menyenangkan untuk menyadari bahwa ternyata selama ini saya telah menyakiti orang yang begitu berarti dalam kehidupan saya. Kata-kata yang diliputi oleh perasaan marah dan kecewa bukanlah cara yang tepat untuk berkomunikasi.

Sekarang ini, kalau saya merasa marah, saya akan berpikir terlebih dahulu tentang perasaan orang yang saya mau ajak bicara dan mencoba memikirkan situasi yang sebenarnya dengan apa yang saya rasakan jauh di dalam hati saya. Kadang-kadang, keadaan sebenarnya tidak seburuk suasana hati kita. Oleh karna itulah kita harus tau jelas apa yang mendorong kita untuk bereaksi. Lebih bijaksana untuk menahan kata-kata kita ketika suasana hati kita sedang buruk. Berusahalah untuk menghargai orang lain dan perasaan mereka, sekalipun di saat kita sedang ingin marah.

Hal ini saya praktekkan bukan hanya kepada pasangan, melainkan juga kepada orang tua saya yang seringkali bertentangan pemikirannya dengan saya. Saya tidak harus selalu setuju dengan pemikiran mereka, namun juga saya tidak selalu harus menunjukkan bahwa pemikiran sayalah yang benar.

Hari ini, ketika saya menceritakan apa yang saya dapatkan di conference tersebut seperti yang saya ceritakan kepada kalian ke pasangan saya, pasangan saya mengatakan kalau saya sukses 2 hari yang lalu, ketika saya sebenarnya BT sama dia. Saya agak kaget mendengar pernyataannya. Bahkan, kemarin dia sempat bertanya "Kenapa bisa jadi lembut gitu padahal udah mau marah?" Sayapun bingung harus menjawab apa. What a very good affirmation from him that im walking to the process of having a new life style of loving ;) Im just want to loving more..

The moment God change somebody heart and renew their mind is the most beautiful moment. And i really thank God for the chance to be there, at that conference. Im sure that i weren't there because a coincidence but because of God's plan.


God Bless you,
Xoxo

Berilah Dirimu Suatu Kesempatan

Beberapa waktu yang lalu gue kehilangan kontrol atas diri gue. Karena sebuah pemikiran yang salah, gue ngomel-ngomel gitu aja sama cowo gue. Parahnya, suatu pemikiran yang salah menghasilkan beberapa pemikiran salah lainnya sehingga kata-kata yang tidak pantas mengalir begitu saja tanpa di-filter. Bagaimana reaksi dia? Tentu saja marah karena apa yang gue ucapkan itu mungkin bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya.

Gue mulai berpikir jernih ketika dia bilang kalo sebenarnya ini semua cuma salah paham. Ketika gue merenungkan kejadian yang baru saja lewat, gue sadar kalo gue telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Mengijinkan pemikiran gue berkeliaran liar tanpa mempertimbangkannya dari sisi yang lain.

Lucunya adalah, ketika gue meminta maaf dan mulai mengakui kalo gue sepenuhnya salah, dia udah ngak marah dan bilang kalo dia juga ada salahnya.

Yah, semua kata yang sudah pernah diucap memang ngak akan pernah bisa ditarik kembali. Kita semua hanya bisa memetik pelajaran dari kesalahan yang dibuat. Menyesali terlalu lama pun tiada gunanya. Karna sesungguhnya tiada satupun dari kita yang pantas untuk menghakimi, sekalipun menghakimi diri sendiri. Kita hanya patut bersyukur bahwa kita masih diberi sebuah kesempatan baru, setidaknya... berilah dirimu suatu kesempatan baru hari ini.

Enjoy Your Life,
Make a Mistake and Learn From It =)

Sebelum Pacaran, Kudu Tau!!!

Gue bangun hubungan dengan pacar gue yang sekarang sudah hampir 4 tahun, sama masa PDKT kira-kira sudah 5 tahun. Membanggakan rasanya kalo mengenang kenapa dulu kita bisa jadian.

Waktu itu baik gue maupun dia udah menjomblo selama kurang lebih 3 tahunan, dia liat gue di suatu acara training. Waktu itu gue juga bukan tipe cewek yang obral meskipun udah menjomblo 3 tahun lebih. Malahan, gue cenderung menutup diri terhadap lawan jenis. Gue cuma punya 3 sahabat lelaki. Gue termasuk tipe cewe yang menarik. Perlu di-mention kalo gue jomblo cukup lama bukan karna ngak ada yang mau. Hahahaha. Banyak yang minta kenalan dan lebih dekat tapi ngak gue tanggepin. Di benak gue pada saat itu, gue ngak perlu dekat dengan orang yang gue udah tau gue ngak mau dekat sama dia. Lagipula, gue sangat menikmati hidup gue.

I KNOW WHAT I WANT EXACTLY IN MY LIFE SO I KEEP MY SELF FROM WASTING MY TIME.

Gue rasa sangat penting buat kita, pria dan wanita untuk tahu hal ini sebelum memutuskan untuk membangun hubungan :

1. Percaya Diri.
Cape banget loch kalo lo punya pacar yang bentar-bentar tanya dia cantik atau ngak, lo sayang dia atau ngak. Jelas, dia ngak percaya sama dirinya sendiri. Gimana dia bisa percaya sama lo? Ya ngak? Repot kan kalo ngak ada kepercayaan diri. Hehehe..

Gimana dengan cowo yang cemburuan berat? Cape juga kan kalo lo ribut tiap hari cuma karna hal-hal sepele yang sebenernya problemnya di kepercayaan diri cowo lo yang ngerasa kurang keren dibanding temen kuliah lo dulu :P

Pengakuan itu ngak seharusnya datang dari orang lain. Lo harus jadi orang yang bisa menghargai diri lo sendiri. Pada akhirnya, itu nanti akan mempengaruhi cara lo berhubungan dengan orang lain. Betul kita memerlukan dukungan, betul kita memerlukan kata-kata afirmasi. Tapi salah kalo lo nilai diri lo berdasarkan cara orang lain treat lo :) Lo harus liat diri lo sebagai seorang pribadi yang bernilai. Lo diciptakan dengan apa adanya diri lo, ngak ditambah dan ngak dikurangin karna ibarat masak, rasanya itu sudah pas untuk dinikmati. So u are :) Lo dengan adanya diri lo sekarang pasti bisa do something great! But first, u have to know who you are. Dari sana lo akan punya yang namanya value.

2. Tau kenapa lo ada.
Selain kepercayaan diri, gue rasa kita juga perlu tau kalo kita tuh hidup buat apa. Soalnya kalo lo ngak tau u hidup buat apa, lo akan cenderung buang waktu lo buat hal-hal yang nantinya akan lo sesali. Kalopun di masa lalu lo udah sempat jatuh dalam hal yang sia-sia it's okay. If now u know, it means u still have time :)

Kalo lo tau lo kenapa ada, lo akan lebih mudah tau keputusan apa yang lo mau ambil. Termasuk keputusan untuk membangun hubungan dengan siapa :)

Dulu gue pernah merasa kosong karna gue ngak tau siapa gue dan gue hidup buat apa. Tapi lewat suatu pengalaman dimana gue merasa hancur hati, kehidupan gue diperbaharui secara total sama Tuhan yang gue percaya. Diawali dengan motivasi yang salah, melarikan diri kepada Tuhan untuk melupakan kejadian yang membuat gue terluka. Tapi pada akhirnya gue ketemu dua hal di atas sehingga 24 September 2007 waktu pasangan gue yang sekarang minta gue jadi pasangan dia, gue jawab YES karna YES i know who i am and i know what i want :)


Kalo ditanya apakah gue sekarang menyesal dengan keputusan gue, sama sekali ngak. Konflik pasti ada karena perbedaan karakter, latar belakang keluarga, dsb. Tapi setiap persoalan jadi lebih mudah diselesaikan karna kami punya pedomannya.

So guys, daripada sibuk nyari pacar. Mending sibukin diri untuk menjadi seorang pribadi yang utuh sehingga pada waktunya nanti, lo dan pasangan lo akan menjadi "COMPLETE" :)

Yang Paling Berharga

Nonton TV bukan menjadi aktifitas favorit gue, atau tepatnya gue ngak punya waktu buat nonton TV. Secara, kalo nonton TV tuh cuma buat gue ngedumel karna hmmm... sorry to say kalo tayangannya tuh bukannya meng-entertain gue tapi malah bikin gue ngerasa "ribet" nontonnya :D Tapi tadi sambil makan, gue sambil nonton TV (yang artinya gue punya waktu bener-bener lebih alias santayy). Hehehehe.

Hal sebaliknya yang berlaku buat anggota keluarga gue yang lain. Hiburan mereka adalah TV. Dan kebetulan hari ini mereka tuh lagi nonton Drama Korea yang ada di salah satu stasiun TV. Gue-pun nimbrung lah. Kalo gue duduk di depan TV-pun gue pasti buka channel news. Tapi rupanya berbeda kali ini karna gue cuma nimbrung. Kalo gue ganti channel, bisa diamuk massa :D

Entah lagi mellow (please baca ulang, bukan melon) atau gimana. Ada adegan dimana tuh sang cewe diprediksi akan meninggal karena mengidap penyakit yang kemungkinan selamatnya kecil meskipun diobati (jangan coba-coba tebak ini film apa, nikmatin aja cerita gue, eheheh). Aduh dari situ semua omongan dan scene di film itu tuh menyentuh hati banget. Gue jadi keinget pacar gue, mau dia senyebelinnnn apapun tapi bener deh punya kesempatan bersama orang yang kita sayang itu bener-bener anugrah :) Smile on my face :)

Emank sih kalo mungkin itu cuma film, tapi dari film itu gue bisa belajar satu hal.

Ya masa iyah andai nanti kita kehilangan yang disayang kita baru mau nyesel?

Gue yakin ngak ada yang mau punya sad ending gitu, hehehe. So, selama kita ada waktu bersama orang-orang kita yang tersayang. Coba yuk appreciate mereka and spend more time with them.

Seringkali hal paling berharga yang dapat kita berikan kepada orang yang kita kasihi adalah waktu kita.

Saya, di malam minggu bersama dengan pacar di rumah masing-masing :P
Febryna Halim

Takut/Nyesel Menikah??

Banyak orang takut untuk menikah. Dengan begitu banyak kenyataan pahit di dalam sebuah pernikahan yang seringkali qta dengar, mungkin dari saudara, kerabat dekat, teman...membuat qta berpikir bahwa pernikahan adalah neraka dunia. Huahahaha. Tapi hubungan tanpa komitmen itupun salah. Bagaimana dengan qta yang sudah terlanjur menikah namun tidak bisa dipungkiri qta berada di dalam neraka. Hidup dengan penuh penyesalan juga tiada berguna. Ini yang mau aku bagiin :)

Tuhan ciptain aku, kamu, qta semua . . . Bukan karna isenk :) Bukan karna Dia ngak ada kerjaan n tiba² tuing... Isenk akh, main² debu eh ciptain Adam n Hawa. Tapi Dia ciptain qta dengan sebuah tujuan :) Begitu juga dengan pernikahan. Pernikahan diciptakan Tuhan juga dengan sebuah tujuan.

Bicara pernikahan, seringkali qta pikir itu adalah sebuah perayaan yang akan berlanjut pada kehidupan dua orang yang tadinya berbeda menjadi satu. Namun pada kenyataannya setelah menghadapi realita dalam pernikahan, yang ada kebanyakan orang jadi stress. Kebahagiaannya cuma bertahan beberapa waktu saja (kata orang²). Selebihnya penderitaan >. Owh benarkah begitu? :) Banyak orang menikah tanpa mengetahui kebenaran bahwa Tuhan itu juga terlibat di dalam pernikahan qta. Siapa yang pernah pikir kalo qta menikah itu juga ada tujuan Tuhannya lowh. Kenapa qta sering liat sebuah pernikahan itu gagal? Itu karna mereka ngak tau kebenaran bahwa di dalam pernikahan mereka itu terdapat tujuan Tuhan =) yaitu :

1.Menciptakan keturunan yang akan menjadi gambar Allah.
Ada yang pikir kalo anak²nya nanti akan jadi duta² Allah yang baru di dunia ini? Atau qta pikir anak itu cuma titipan aja yang dirawat dan dibesarkan dengan caranya qta tanpa mempertimbangkan bahwa anak² qta itu adalah anak² yang sedang dipersiapkan melalui qta untuk melakukan perkara²Nya di bumi :) Jadi atau ngaknya, tergantung pohonnya loh ;)

2.Pernikahan itu bukan sekedar kebahagiaan, tetapi pertumbuhan ( begitu juga dengan hubungan ).
Kenapa ada segelintir orang menganggap sinis sebuah pernikahan/hubungan yang serius? Karena mereka mengejar kebahagiaan sebagai yang terutama sehingga mereka terus menerus kecewa. Kebahagiaan identik dengan kesempurnaan. Ngak enak dikit, udah ngak bahagia. Betul begitu? Aku percaya banget kalo kebahagiaan sejati itu akan qta temukan kalo kehidupan relationship qta dibangun dengan landasan cinta kasihnya Tuhan :) Pertumbuhan yang qta akan capai dalm pernikahan adalah menemukan dan menggenapi tujuan yang Tuhan telah tetapkan untuk qta. So, di dalam pernikahan qta harus saling membangun untuk qta bisa bekerja sama dalam menggenapi apa yang jadi tujuanNya Tuhan. Jadi, nikah bukan untuk seneng² n memikirkan tujuan qta yang pada umumnya adalah punya keturunan biar ada yang ngurus nanti kalo udah tua, biar ada yang ngerawat, biar ada yang sayangin ;P huekekekek.

Tiga level dalam kehidupan qta adalah :
Bertahan
Banyak orang hidup hanya sekedar bertahan. Tipe orang kayak gini tipe pasrah, udah dikasih hidup yah hidup aja. Dikasih miskin yah miskin aja. Asal hidup aja deh.

Sekedar sukses
Banyak orang yang tujuan utama dalam kehidupannya adalah mengejar kesuksesan. Dapet pengakuan dimana², ngak sulit dapet ini dan itu tapi juga tetap ngerasa hidupnya kosong. Hampa terasa. Buat apa?

Bermakna
Duh ideal banget. Happy gitu bayangin hidup begini. Inilah kehidupan yang sesungguhnya. Hidup yang bermakna itu artinya hidup dengan menyelesaikan tujuan.

Prinsip Dasar Menjaga Komitmen Suatu Hubungan

Komitmenku dan Ryu (pasanganku) sudah dimulai sejak 24 September 2007. Dari awal qta berkomitmen, emank udah jelas tujuan dari hubungan qta adalah pernikahan. Meski usiaku masih terbilang sangat muda, aku udah berpikir serius tentang masalah yang satu ini :)

Sebelumnya, masing² dari qta udah pernah bangun hubungan tapi karna satu dan lain hal hubungan qta masing² itu harus kandas di tengah jalan. Yahhh, hubungan qta dengan yang sebelumnya aku yakin juga serius n tujuannya juga sama yaitu pernikahan. Masih inget lah jamannya sedih² karna putus itu tapi secara pribadi aku selalu percaya kalo Tuhan ngak akan pernah ijinin qta menikah dengan pasangan yang tidak tepat.

Bicara pernikahan itu bicara seumur hidup. Meski aku bukan expert di bidangnya karna aku sendiripun belum nyemplung tapi aku pengen banget bisa share apa yang aku dapatkan selama ini mengenai relationship dengan lawan jenis. Aku punya pengalaman sangat menyedihkan tentang kehilangan orang yang aku kasihi dan perlu dicatat bahwa pada waktu itu aku sangat serius! Aku ngak pernah memulai sebuah hubungan dengan maksud main², tapi hampir semuanya berakhir dengan air mata :) Tapi kalo saat ini aku bisa memulai suatu hubungan yang baru tanpa dipengaruhi oleh luka² masa lalu, aku bisa bilang kalo rumusnya adalah sama. Untuk memulai suatu yang baru, qta harus bener² tinggalkan/lepaskan/copot/buang jauh² yang lama². Simpen di gudang aja udah ngak perlu :) Intinya hati qta harus beres! Karna di depan manusia qta bisa pura² yah, tapi kalo bicara hati. Itu udah paling nga bisa boong. Sengsara banget ngak sih boongin hati. Mulai suatu hubungan yang baru tapi takut ... tapi ngeri ... tapi trauma ... Apalagi dengan cap yang sering qta denger "Semua cowo/cewe" sama aja ;P Sulit buat beranjak yah. . . Apalagi menikah itu merupakan suatu keputusan penting.

Aduh jadi panjang lebar. Balik lagi ke kalimat di paragraf sebelumnya. Bicara pernikahan itu bicara seumur hidup. Di atas tadi aku sempet share bahwa Tuhan ngak pernah ijinin qta menikah dengan pasangan yang tidak tepat. Itu dalam konteks happy ending dimana qta bisa ambil pilihan yang tepat untuk ngak ngotot sama maunya qta tapi bela²in biar kehendakNya yang jadi. Kayak aku yang putus sedih² itu, bukan karna masalah sepele karna cemburu dsb tapi karna masalah yang prinsip banget. Kepercayaan yang dihianati berulang kali ( duwh jadi buka kartu deh --"! Ato malah curhat colongan ;P Apapun itu sSsssttttt loh yah) dan begitu banyak hal yang ngak bisa aku paparkan satu per satu. Tapi percayalah kalimat bahwa Tuhan ngak pernah ijinin qta menikah dengan pasangan yang tidak tepat. Kecuali hidup qta diluar Tuhan, itu bisa saja terjadi. Tapi andai² nasi sudah menjadi bubur, percaya yang kedua. Seberapapun qta telah merasa salah dan menyimpang... Percayalah bahwa rencanaNya ngak pernah berubah untuk qta =) Tinggal bagaimana qta kembali ke jalanNya yang agag susah setelah qta udah lama di "posisi" itu. Jadinya kaku. Anda mengerti apa yang saya maksud dengan kaku? Hihihi. Sulid berubah karna udah ngedekem di posisi itu² aja ( yang kurang baik untuk kesehatan pertumbuhan qta ). Emank loh buat berubah itu ngak gampang. Ibarat mesin yang udah jarang aktif, tapi tergantung pake oli apa yah ;) Jadi, sekarang... masalahnya di oli. Ayo pake oli murahan ato ...? Pake kepercayaan semu atau kebenaran kekal?

Duwh kalimat yang bicara pernikahan itu bicara seumur hidup jadi ngak selesai² (yah ciri² penulis itu mungkin pikirannya terlalu liar ;P ada yang setuju dengan saya? Zzzz mala cari pendukung ;). Bicara pernikahan itu bicara seumur hidup, jadi alangkah bijaksananya kalo qta membangun hubungan dengan cara yang benar dan tentunya hanya dapat dijalani dengan memiliki prinsip² yang benar yang bisa qta temukan di dalam firman Tuhan.