Tampilkan postingan dengan label Social LiFe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social LiFe. Tampilkan semua postingan

How to Change a Life?

Ada beberapa orang yang jika saya berada di sekitar mereka, mereka membuat saya merasa besar. Lewat teladan mereka, mereka mampu mendorong saya untuk naik lebih tinggi menjadi pribadi yang lebih baik.

Ada beberapa orang yang jika saya berada di sekitar mereka, mereka membuat saya merasa kecil. Dengan lantang berusaha menunjukkan siapa mereka di mata saya dan berpikir dengan begitu mereka sedang mendorong saya untuk menjadi sama dengan mereka.

Good is never enough.

Tidak semua orang dapat meng-handle saya, tidak semua orang memiliki faith terhadap diri saya. Tapi saya tetap mengucap syukur karena dengan demikian saya mampu mensyukuri yang sedikit.

Seorang sahabat sejati mengenal siapa Anda, termasuk kelemahan Anda namun tetap mengasihi Anda apa adanya. Jeffrey.R.


Many life will change if we're willing to give our unconditional love, fullest acceptance and wholehearted caring. Febryna Halim.

Live is short, it's worth to live in the fullest.
Live Yours, dear friend...

The Encouragement Of Love

Dalam interaksi antar manusia, tanpa disadari kita memegang peranan yang amat penting. Saya selalu percaya bahwa hal kecil yang kita lakukan, dapat membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan orang lain. Hal kecil itu dapat berbentuk positif ataupun negatif.

Setiap manusia memiliki kebutuhan terbesar untuk dikasihi. Bagi saya, kasih adalah suatu bentuk kata kerja yang artinya kasih itu harus dilakukan. Kita perlu menunjukkan kasih kita pada orang lain lewat sikap kita. Kasih bukanlah kasih, jika belum diberikan.

Sikap kita kepada seseorang menentukan apakah orang tersebut merasa dikasihi, atau sebaliknya.

Bayangkan bagaimana rasanya jika kita diperlakukan secara tidak baik oleh seseorang, mungkin sepele seperti diperlakukan secara tidak ramah oleh pelayan restoran. Karnanya, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk mengunjungi restoran itu lagi. Pada kenyataannya, kebutuhan untuk merasa dikasihi bukan saja perlu kita terima dari orang-orang terdekat kita melainkan juga dari orang yang tidak memiliki hubungan secara langsung atau dekat dengan kita.

Biasanya bentuk kasih yang kita berikan digerakkan oleh perasaan kita. Ketika suasana hati sedang baik maka kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan. Bagaimana jika perasaan kita sedang kacau? Bisa saja kita menimbulkan kekacauan bagi kehidupan orang lain. Contoh yang lain adalah biasanya kita memperlakukan orang lain sama atau bahkan lebih buruk dari cara orang tersebut memperlakukan kita.

Saya pernah mengalami saat dimana saya sungguh tidak ingin bersikap baik karna saya merasa tidak baik. Tapi saya sadar betul saya memiliki pengaruh untuk mencerakan atau mengkelamkan suatu kehidupan.

Jika saya memiliki kendali untuk menjadi pengaruh positif dalam kehidupan orang lain, tentu saya harus mulai dengan sebentuk tindakan yang berlawanan dengan perasaan negatif saya pada saat itu.

Lingkungan atau keadaan bisa saja membuat suasana hati kita menjadi buruk, namun saya percaya setiap kita memiliki dorongan untuk memberikan kontribusi positif bagi kehidupan orang lain dan hal tersebut hanya dapat terpenuhi jika kita memiliki komitmen untuk memberikan hanya yang terbaik bagi orang lain lepas dari bagaimanapun perasaan kita.

Judul yang saya berikan untuk tulisan kali ini adalah The Encouragement Of Love karna saya percaya sebentuk tindakan kasih yang kita berikan dapat memberikan suatu dorongan, dapat mengobarkan semangat dan membesarkan hati seseorang yang mungkin saja sedang membutuhkannya. So, let's don't stayed away from loving =)

May your act of love encouraging the needy.

Love,
Me

Seseorang yang Dimenangkan

Gue mau ceritain pengalaman kehidupan gue bersama dengan Tuhan. Kalo gue ada sampai detik ini, gue percaya dan sadar kalo itu cuma karna kasih karuniaNya. Tanpa kasih karunia Tuhan, mungkin gue ngak akan ada disini hari ini.

Gue lahir sebagai anak pertama dari 4 bersaudara di tengah keluarga non-kristen. Gue menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadi waktu gue duduk di bangku SMP, itupun bukan karena gue terlebih dahulu mengenal siapa pribadi Yesus. Bisa dibilang, gue terima Tuhan Yesus cuma karna ikut-ikutan temen dan kebetulan gue sekolah di sekolah Kristen. Pengalaman pribadi gue bersama dengan Tuhan Yesus justru gue dapatkan di masa-masa sulit dalam kehidupan gue.

Saat ini bisa dibilang keluarga gue merupakan keluarga yang harmonis. Kami suka hang out sama-sama, bokap nyokab gue juga bisa dibilang asik karna mereka bisa diajak hang out kemana aja n ngapain aja. Kami juga suka duduk-duduk cuma sekedar untuk ngobrol, meskipun kalau untuk hal pribadi masih sulit untuk kami menceritakannya kepada orang tua. Tapi keadaan ini sangat bertolak belakang dengan keadaan waktu gue duduk di bangku SD sampai SMA. Di waktu itu, papa mama sering sekali bertengkar di depan kami. Bertengkarnya-pun tidak hanya sekedar adu mulut di depan kami sebagai anak-anak, melainkan sampai saling melempar dengan barang pecah belah. Pernah juga beberapa kali samurai dan pisau dapur menjadi senjata mereka. Hal tersebut terjadi di depan kedua mata kami sebagai anak-anak dan dengan frekuensi yang cukup sering.

Waktu gue mulai duduk di bangku SMP, gue mulai menyadari apa yang sedang terjadi di tengah-tengah keluarga gue. Guepun bertindak sebagai pelindung bagi nyokab dan adik-adik gue. Sungguh tidak mudah karena dengan keadaan keluarga yang seperti itu tentu saja gue ngak dapatkan arahan dan perlindungan di dalam keluarga, tapi justru gue yang harus menjadi pelindung buat anggota keluarga gue. Pertanyaannya adalah :

Dari mana gue dapatkan kekuatan tersebut?

Terus terang, gue punya 1001 alasan untuk mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Gue bisa aja komplain sama Tuhan dan tanya ke Tuhan "Kenapa harus gue?". Gue-pun memiliki pilihan untuk mempersembahkan kehidupan gue bagi kesia-siaan. Tapi itu semua ngak gue lakukan!

Justru di saat gue ngak bisa ngeliat Tuhan itu ada dan justru ketika gue ngak bisa ngerti apa rencana Tuhan di balik apa yang gue alami, gue belajar untuk hidup mengandalkan Tuhan dan belajar menyerahkan kehidupan gue sepenuhnya sama Tuhan.


Gue slalu percaya satu hal kalo Tuhan punya rencana yang unik dan spesifik bagi setiap kita. Gue punya kisah gue sendiri, semua orang punya kisahnya masing-masing.

Baik atau burukpun kisah dan latar belakang kita, satu hal yang pasti. Rancangan Tuhan atas kehidupan kita tidak pernah gagal.


Gue juga selalu percaya, untuk tampil dan keluar sebagai seorang pemenang dalam kehidupan, seringkali ada hal-hal yang harus kita lepaskan. Mungkin itu masa lalu kita, mungkin itu rasa kecewa kita, ketidakmampuan kita untuk mengampuni. Apapun itu, kita harus belajar menyerahkannya kepada Tuhan. Gue pribadi bergumul dengan siapa diri gue di mata gue. Gue tanpa sadar menyimpan "my list" dimana list tersebut berisi latar belakang gue yang buruk serta kelemahan-kelemahan gue yang seringkali gue bentangkan di hadapan Tuhan ketika Tuhan say something GREAT about me and my life and my future. Gue banyak dapatkan Tuhan berbicara buat gue lewat apa yang gue baca di bible.

Kebiasaan gue membaca alkitab membuat gue mendapatkan identitas gue yang sejati yaitu siapa gue di mata Tuhan.


Finally, gue bisa bilang kalau seorang pemenang itu adalah mereka yang menyerahkan kehidupannya sepenuhnya sama Tuhan dan mengandalkan Tuhan di sepanjang perjalanan kehidupannya.

I Thank God for My Life

Seseorang yang dimenangkan oleh Tuhan,
Febryna Halim

Your Power in Social Life

Saya selalu percaya kalo setiap orang dapat membawa pengaruh dalam kehidupan orang lain. Menjadi pilihan kita apakah pengaruh yang kita berikan itu positif atau negatif. Dapat keduanya, mungkin tanpa kita sadari. Contohnya seperti saya yang hanya sekedar baca timeline di twitter, bisa ikut kesel atau dibikin kesel sama orang tersebut. Tapi bisa juga hanya karena baca tweet di timeline saya, saya bisa merasakan kehidupan orang tersebut "hidup" banget and saya seperti termotivasi untuk "menghidupi" hidup saya sendiri karena saya ngak mau terus-terusan "mengagumi" kehidupan orang lain :)

Believe it or not, it's true that all of us can be an impact for others!


Kalo saya lebih suka menjadi orang yang dapat menambahkan nilai positif bagi orang lain. Masalahnya adalah pengaruh itu tidak kita rancang dengan sengaja. Pengaruh itu sederhana, orang dapat dipengaruhi oleh siapa yang berada di sekelilingnya. Saya adalah pengaruh bagi orang di sekeliling saya, sadar atau tidak sadar. Saya tidak melakukan itu secara sadar, sayapun tidak merancangkan suatu ide agar pengaruh saya dapat berjalan. Semuanya berjalan secara alami.

Pengaruh yang kita tanamkan dalam diri orang lain tergantung dari bagaimana kita membangun kehidupan kita sendiri.

Kalau hari-hari ini begitu banyak social media dan jika social media itu kita ibaratkan sebagai sebuah senjata atau kekuatan di tangan kita, adalah menjadi pilihan kita untuk menggunakannya secara bijaksana ataupun secara sembrono.

Posisi saya? Kadang sembrono, kadang bijaksana. Hehehehe...

Live Your Life ;)

Cheers,
Febryna Halim

Family

I don't have a perfect family. I realize, nobody has. Once, I though that my family is the worst in the world. But as I'm growing up, I know that I'm not alone.

There are so many children out there who abuse by their parent. I don't know all of their story, i just know the story of two kids who is my relatives. They don't go to school anymore because they have no money. Their mom leave them, their dad is jobless and their grandmother is struck. They are not more than 10 years old children. When I hear about their story, I want to hug them and say that everything will be okay.

Did you see? I don't have a courage to not be grateful. I even haven't see them yet. But I just know one thing that I don't have even a reason to complaining about the situation I faced. So many children have to face the worse.

When I'm feel like want to giving up, I'm just crying. Not for my imperfect family but for them who have to face much worse situation.

I wish I can reach them and give them comfort. I wish I can give them an education so they have the same chance as the other kids. I may have no chance like the others have but it's not a distance between me and my dream. I keep God's promises that He can do all things through anybody, including me, no matter what.

One day, I'll make a change for the better world. Now, I'm prepared by the situation. I have to face it bravely and rightly.

Me,
Febryna Halim

One Afternoon With My LiL Brother

Orang dewasa harus mengalah sama anak kecil. Kalo orang dewasa ngak mengalah artinya orang dewasa kekanak-kanakan
Ryan Halim


My Lil bro Ryan berumur 8 tahun, tapi dia seperti memiliki pandangannya sendiri dan cenderung keras kepala. Dia tidak menerima sesuatu begitu saja tanpa proses berpikir. Saya mencoba menyelami cara berpikirnya, mencoba menemukan alasan dibalik kekurangtaatannya. Saya bukan tipe orang yang suka marah-marah dan menghakimi dengan kata-kata "Koq nakal banget sih, dll." Saya percaya selalu ada alasan dibalik perilaku seseorang. Begitu pula dengan seorang anak. Meski mereka masih kecil, mereka juga memiliki "suara" yang rindu untuk didengar. Bagaimana kita berharap untuk didengar dan dipatuhi jika kita tidak menghargai mereka.

Sore ini dia berulah dan orang rumah memarahinya. Kejadian tersebut sering terjadi, orang rumah berteriak kepada dia dan dia balas berteriak.

Saya suka sekali dengan dia. Dia manis dan enak diajak bicara. Dia bicara apa adanya dan seringkali saya bisa mendapat hal indah dari hanya sekedar berbincang ringan dengan dia. Seperti sore ini ketika dia berulah. Dia ngedumel dan saya tau jelas tidak enak sekali dimarahi, anak-anak selalu punya alasan untuk bertingkah. Mereka masih polos dan tidak mungkin merencanakan untuk melakukan hal-hal buruk. Setelah dia selesai mandi,saya manjakan dia, dia duduk di pangkuan saya. Kami ngobrol. Saya tanya ini dan itu, menjawab pertanyaan dia dengan cara lucu sehingga kami berulang kali tertawa ringan. Bertanya ini dan itu padanya dengan intonasi lembut dan kalimat bukan tuduhan, dan entah kami berbincang sampai mana ketika ia berinisiatif untuk mengambil secarik kertas agar dapat menuliskan kalimat yang katanya sulit ia katakan dan memberikannya pada saya. Sebaris kalimat yang saya tulis di atas. Ada pesan yang ingin dia sampaikan :) Dari dasar hatinya, ia rindu didengar.

Saya masih muda ketika menuliskan ini, belum menikah dan belum memiliki seorang anak. Saya hanya tau ketika kecil dan sampai sekarang, saya ingin didengar oleh mereka yang kami sebut Papa dan Mama. Entah apa sebabnya, sulit sekali mendapatkan kesempatan untuk didengar. Kalimat yang terdengar seperti kalimat-kalimat perintah, seakan-akan kami tidak pernah dewasa.

Ryan baru berumur 8 tahun dengan pemikiran yang luar biasa.
He will bLess our nation, 10-15 years from now :)
Amen!

[Febryna Halim]

SeLf Image

Baru-baru ini saya menjumpai seseorang yang saya pikir gengsinya sangat tinggi. Orang semacam itu dengan mudahnya merasa tersinggung. Ada satu peristiwa yang menjelaskannya dengan baik.

KISAHKU
Malam itu saya dan papa sedang duduk di toko, ada seorang pembeli yang nongkrong di depan toko dan tiba-tiba mengangkat aqua gelas yang dipajang di depan toko. Karna papa sedang makan, lantas saya bangun dan menghampiri dia di depan. Bermaksud melayani dia. Bagi saya, sudah selayaknya bagi saya untuk menghampiri orang yang mengambil barang saya, mereka dinamakan pembeli. Namun ternyata tindakan saya ditafsirkan lain olehnya. Dia marah-marah sewot karna dia pikir saya menuduhnya maling. Bagi saya, tindakan saya adalah wajar ketika ada yang membeli maka saya melihat dan menghampiri. Bagi dia, tindakan saya merupakan penghinaan dan tindakan saya didasari oleh pikiran saya atas ketidakmampuan dia.

RESPON SAYA
Malam itu saya akui saya meresponi sudut pandang dia secara berlebihan. Karna dia ngedumel hal yang sama sekali tidak benar, lantas saya menghampiri dia untuk kedua kalinya dan bertanya apa masalah dia. Dia lantas kembali mengutarakan pandangannya secara panjang dan lebar. Saya tipe orang yang terus terang dan cenderung memiliki sudut pandang saya sendiri. Jika saya tidak bermaksud menyinggung dia, itulah saya dan apa yang saya coba jelaskan pada dia yang benar-benar tidak mau mengerti malam itu. Malam itu berakhir dengan tidak enak, dia masih marah-marah dan saya juga tidak mau menerima pikirannya yang buruk.

Perenungan
Di malam itu sebelum tidur, saya merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Lantas saya menarik kesimpulan bahwa gengsi kita seringkali berhubungan dengan harga diri dan harga diri berhubungan erat dengan cara kita memandang diri kita sendiri serta cara kita memandang orang lain. Kita bisa berpikir orang tersebut a/b/c/d, padahal dalam kenyataannya orang tersebut tidak seperti itu. Kenapa bisa? Karna seringkali kita melihat dari kacamata yang kita kenakan. Mungkin orang tersebut memiliki ketidakpercayaan diri. Dia berpikir uang bisa membeli segalanya dan harga diri dia tergantung berapa jumlah uang yang ia miliki. Mungkin juga bukan karna harga dirinya melainkan karna dia sedang mengalami masalah yang dia tidak dapat selesaikan dengan uang.

ADVICE
Saya pribadi menyadari tidak semestinya saya menghampiri dia hanya karna ego saya disinggung. Semestinya perenungan tersebut saya lakukan sebelum saya bertindak lebih jauh. Namun, tidak pernah ada yang terlambat. Peristiwa malam itu menjadi sebuah peringatan bagi saya untuk memperbaharui pikiran saya yang masih bisa salah. Tidak semua hal dapat dijelaskan melalui kata-kata, dan tidak semua hal perlu kita jelaskan. Kesalahan saya adalah seringkali saya terdorong untuk membenarkan hal-hal yang jelas salah, namun sayangnya saya harus lebih bijaksana menempatkan maksud baik saya pada waktu dan orang yang tepat. Melalui perbincangan saya dengan adik saya, saya mendapatkan banyak pembaharuan.

Kisah Sedih Saya

Aku dan rasaku . . .
Hari ini adalah salah satu hari tersedih dalam hidup saya dan semua berhubungan dengan papa. Ada seribu alasan bagiku untuk mengasihani diri saya sendiri. Semua yang saya lakukan adalah untuk keluarga, saya bahkan rela berkorban apa saja demi mereka. Namun, sebaliknya yang hampir-hampir selalu saya rasakan dari keluarga saya terhadap saya dimasa-masa kelam saya. Tidak adakah yang ingin mengerti dan memaklumi?

Papa, ku hanya manusia biasa
Terbiasakah aku memaklumi dan cepat melupakan luka yang diukirkan orang lain di hatiku namun sudah menjadi suatu kebiasaankah untuk mereka tetap menyakitiku dengan sikap mereka? Semua yang aku lakukan selalu salah dimata papa. Selalu ada alasan bagi papa untuk mengomentari dengan negative semua lakuku yang jelas tidak sempurna karna aku hanya tulang balut kulit, makan nasi dan kadang dikendalikan emosi, seperti manusia biasa. Lantas di dunia yang belakangan kusadari begitu keras dan kejam menghadapiku, seakan aku yang menjadi diriku apa adanya tidak diterima. Papa yang baik dimata orang-orang, termasuk teman-teman dekatku. Papa tidak jahat, hanya saja dia bukan sosok papa yang diidam-idamkan. Tentu aku bersyukur karna aku selalu membandingkannya dengan yang lebih buruk. Paling tidak aku masih ingat untuk terus beryukur dan menyangkal diriku sendiri.

Don't judge me if you don't know me!
Jelas harga diri saya sudah entah melayang kemana. Setiap apa yang sudah saya perjuangkan tidak ingin kuhitung kembali . Namun kini saya rasakan hati lemah tidak berdaya menghadapi cacian dan makian serta cercaan yang datang bertubi-tubi dari mulut mereka yang tidak benar-benar mengenal siapa saya, sekalipun mereka disebut keluarga.

I Wish for
Beribupun salah mereka, saya coba memaklumi karena saya sadar betul keluarga adalah tempat berlindung paling aman. Sekalipun keluarga adalah tempat yang paling tidak sempurna karena disana terkuak semua kelemahan, namun bisakah keluarga menjadi tempat dimana saya dibentuk menjadi semakin sempurna dan dewasa dari hari ke hari? Saya harapkan keluarga bisa menerima diri saya apa adanya serta menyediakan lingkungan yang kondusif tempat saya belajar. Sesuatu yang tidak saya dapatkan dari dulu.

Self Defense
Batin saya meronta dan jiwa ingin berontak. Saya sungguh tidak tahan lagi. Namun, setiap hari saya mencoba melihat sisi lain dari kehidupan yang merupakan misteri yang ilahi. Kita tidak pernah dapat menebak apa yang dapat terjadi. Hanya saja, benih ilahi yang patut ditabur setiap hari. Tidak bisa saya terus menuntut orang lain sekalipun mereka adalah orang tua sendiri, orang yang saya pikir paling berkewajiban memenuhi kebutuhan saya, terutama secara mental. Saya tepis pikiran tersebut, saya hanya bisa mengandalkan self defense saya yang selama ini cukup tinggi. Namun harus saya akui, saya butuh tempat bersandar. Kadangkala saya dapat menjadi terlalu lelah. Apa ini semua hanya permainan pikiran belaka?

To be honest, this is my problem so far
Saya selalu bermain dengan logika. Saya ingin solusi dari apa yang kuanggap sebagai permasalahan. Tanpa disadari keinginan tersebut menjadi akar dari sikap-sikap saya yang belakangan menjadi emosional. Saya terlalu takut dan merasa tidak aman sehingga emosiku menjadi tameng dari smua ketakutan saya. Saya merasa tidak aman di keluarga yang penuh dengan intimidasi. Kurangnya dukungan dari kedua orang tua serta lingkungan yang mereka ciptakan di tengah keluarga membentuk saya menjadi pribadi yang takut terhadap ketidakpastian hari esok.

GOD always GOOD
Selama ini Tuhan sangat baik, selalu ada cara bagi Dia untuk menyelamatkan saya keluar dari berbagai situasi yang saya tidak inginkan. Termasuk kali ini, saya harus mempercayai Dia terlebih lagi. Rasanya takut sekali menghadapi hari esok. Mood papa yang tidak pasti, perkataan papa yang seringkali menyakitiku, 1001 alasan bagiku untuk membela diri dan mengasihani diri. Tapi saya tau semua itu tidak akan pernah menyelamatkan saya. Hanya kasih dan pengharapan Tuhanlah yang menjadi tempat yang aman bagi saya untuk berlindung. Kini saya percaya saya tidak takut lagi, masa depan saya terjamin dan indah, saya memiliki kehidupan yang luar biasa, lapangan tempat Tuhan membentuk saya sedemikian rupa sehingga saya siap menghadapi perkara-perkara yang lebih besar. Suatu hari saya akan mampu menjadi saksi dari setiap pengalaman-pengalaman orang lain yang sebelumnya sudah pernah saya lalui bersama dengan Tuhan.
Saya harus belajar menaruh gengsi saya di chart terakhir dari prioritas kehidupan saya. Tidak menjadi soal hinaan dan cercaan yang saya terima dari sesama saya, mereka yang memposisikan diri mereka di atas orang lain sehingga mereka merasa sah-sah saja menginjak-injak orang lain. Baik, saya putuskan saya akan menjadi orang yang jauh lebih baik. Untuk dunia yang lebih baik!


Say to Me
Saya kuat dan saya pasti bisa. Meski saya kurang suka jika saya selalu harus kuat dan menanggung semua hal yang rasanya ingin saya bagi tapi entah pada siapa dan kemana. Kembali lagi ke soal mengasihani diri. Saya putuskan saya harus mengambil tanggung jawab terhadap hal-hal yang memang masih bisa saya pikul, jika patut bandingkan dengan apa yang telah juru slamat saya lakukan bagi saya dan seluruh dunia.

Pelangi Setelah Hujan
Thanks God buat adik saya, Julyssa yang telah membukakan pikiran saya dan bersyukur juga untuk kesempatan hari ini. Lewat peristiwa yang terjadi, saya dapat lebih mengenal apa yang ada di pemikiran adik saya dan bukan apa yang selama ini saya pikirkan mengenai dia dengan pikiran saya yang terbatas.

[Febryna Halim]